Perang Seabling vs Knetz Makin Panas, Ini Faktanya!

Perang SEAbling vs Knetz Makin Panas, Ini Faktanya!

Penulis
Rizki Astuti
Tanggal publish
16 Februari 2026

Belakangan media sosial diramaikan oleh perdebatan soal rasisme di Korea Selatan yang menyeret istilah KNetz hingga solidaritas digital bertajuk SEAblings.

 

Topik ini viral setelah terjadi gesekan antara netizen Korea Selatan dan netizen Asia Tenggara di platform X (sebelumnya Twitter), yang kemudian berkembang menjadi diskusi panjang tentang diskriminasi, stereotip, dan sensitivitas lintas budaya. Bahkan isu ini semakin panas setelah artis Indonesia, Baskara Mahendra ikut terseret.

 

Sebelum membahas fakta-fakta menarik, berikut perlu kamu ketahui dulu apa itu KNetz.

Apa Itu KNetz?

rasisme korea selatan

 

KNetz merupakan singkatan dari Korean Netizens, yaitu sebutan untuk warganet Korea Selatan yang aktif di media sosial atau forum online. Ini sudah lama digunakan dalam pemberitaan K-pop dan drama Korea, terutama ketika membahas opini publik di Korea Selatan.

 

Namun dalam konteks terbaru, istilah KNetz menjadi sensitif karena dianggap mewakili komentar-komentar yang dinilai rasis atau stereotipikal. Perlu dipahami bahwa KNetz tidak mewakili seluruh masyarakat Korea Selatan, melainkan sekelompok pengguna internet yang vokal di ruang digital.

1. Perang Dimulai dari Konser DAY6 di Kuala Lumpur

Isu ini bermula dari insiden konser grup K-pop DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir Januari 2026. Dalam acara tersebut, beberapa penggemar asal Korea Selatan kedapatan membawa kamera profesional ke dalam venue, padahal aturan konser melarang penggunaan perangkat tersebut.

 

Teguran dari penonton lokal dan petugas keamanan memicu perdebatan. Situasi semakin memanas ketika sejumlah komentar dari netizen Korea Selatan dinilai bernada merendahkan terhadap masyarakat Asia Tenggara.

2. KNetz Dinilai Rasis

Meski penggemar sudah minta maaf, banyak netizen Korea Selatan tidak menerima kritikan itu dan justru menunjukkan sikap bermusuhan dengan Malaysia. Bahkan salah satunya menyebut bahwa artis Idol Korea hanya boleh dinikmati oleh warga di negaranya.

 

Semakin panas, komentar KNetz juga berkembang menjadi ejekan tentng fisik, bahasa, warna kulit, hingga kondisi ekonomi di negara Asia Tenggara. Komentar itu dianggap rasis oleh banyak netizen ASEAN.

3. Munculnya SEAblings, Solidaritas Netizen ASEAN

Respons dari netizen Asia Tenggara tidak kalah kuat. Muncul istilah SEAblings, gabungan dari SEA (Southeast Asia) dan siblings (saudara), yang menggambarkan solidaritas netizen ASEAN dalam menghadapi komentar yang dianggap merendahkan.

 

Tagar dan percakapan bertema SEAblings sempat menjadi trending topic. Netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Vietnam saling mendukung dan membela satu sama lain.

 

Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat membangun solidaritas regional dengan cepat, sekaligus memperlihatkan betapa sensitifnya isu rasisme dan diskriminasi di era digital.

4. Nama Baskara Mahendra Ikut Terseret

Perdebatan ini semakin meluas ketika nama aktor Indonesia Baskara Mahendra ikut terseret. Foto dirinya digunakan oleh akun yang diduga berasal dari netizen Korea dalam unggahan yang bernada merendahkan. Hal tersebut memicu reaksi keras dari warganet Indonesia yang membela sang aktor.

 

Tak hanya itu, nama sejumlah idol K-pop seperti RM dari BTS juga sempat disebut dalam perdebatan balasan antarwarganet. Padahal para figur publik tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan insiden awal.

 

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana konflik digital dapat meluas dan menyeret pihak-pihak yang sebenarnya tidak terlibat.

5. Tagar Viral dan Perang Narasi di Media Sosial

Isu ini viral di media sosial dengan tagar #SEAblings dan diskusi seputar KNetz bertahan cukup lama di trending topic regional. Bahkan sampai saat ini masih ramai dibahas.

 

Perang narasi terjadi di berbagai platform, dengan masing-masing pihak membawa screenshoot dan argume versi mereka. Beberapa netizen juga menyuarakan agar permasalahan ini tidak digeneralisasi sebagai sentimen antarnegara.

 

Ada beberapa faktor yang membuat isu ini cepat membesar:

  1. Media sosial mempercepat penyebaran opini. Satu unggahan bisa tersebar ke ribuan akun dalam hitungan menit.
  2. Perbedaan budaya dan bahasa. Komentar yang mungkin dianggap biasa di satu negara bisa dinilai ofensif di negara lain.
  3. Emosi kolektif fandom. Komunitas penggemar K-pop memiliki solidaritas tinggi, sehingga respons bisa sangat masif.

Perdebatan ini menjadi pengingat bahwa komunikasi lintas budaya membutuhkan empati dan kehati-hatian. Dunia digital tidak memiliki batas geografis, sehingga setiap pernyataan bisa berdampak global.

 

Baca Juga: 

Pelajaran dari Konflik Digital Lintas Negara

Pelajaran dari Konflik Digital Lintas Negara

 

Fenomena KNetz vs SEAblings menunjukkan bahwa masyarakat Asia Tenggara semakin sadar terhadap isu harga diri dan representasi regional. Di sisi lain, konflik ini juga membuka ruang refleksi bahwa generalisasi terhadap satu kelompok masyarakat bisa memperkeruh keadaan.

 

Alih-alih memperpanjang konflik, diskusi semacam ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman lintas budaya. Menghargai perbedaan, menghindari stereotip, dan membangun komunikasi yang sehat adalah langkah penting agar ruang digital menjadi lebih positif.

 

Di tengah era globalisasi, hubungan antarnegara tidak hanya terjadi lewat diplomasi resmi, tetapi juga lewat interaksi sehari-hari di media sosial, konser musik, hingga aktivitas ekonomi. Keterhubungan ini membuat dunia terasa lebih dekat, namun juga menuntut tanggung jawab lebih besar dalam berkomunikasi.

Dunia Tanpa Batas, Koneksi Tanpa Hambatan

pengiriman paket ke luar negeri

Terlepas dari perdebatan yang terjadi, satu hal yang pasti: interaksi antarnegara kini semakin intens. Mobilitas manusia, budaya, hingga barang melintasi batas negara setiap hari. Baik untuk urusan pendidikan, bisnis, maupun kebutuhan pribadi, konektivitas global sudah menjadi bagian dari kehidupan modern.

 

Ketika kamu ingin mengirimkan barang ke berbagai kota bahkan ke luar negeri, baik untuk keluarga, teman, maupun kebutuhan bisnis pastikan untuk kirim menggunakan layanan yang terpercaya dan aman.

 

Lion Parcel merupakan jasa pengiriman terpercaya yang memiliki layanan ke luar negeri, yaitu INTERPACK. Lion Parcel siap bantu kamu kirim paket ke lebih dari 50 negara dengan proses yang praktis dan transparan. Salah satunya Kuala Lumpur. 

 

Kirim paket ke Kuala Lumpur, Malaysia ongkirnya mulai dari Rp52 ribuan. Lebih untung lagi, kirim dengan berat di atas 1kg (kilogram). Makin berat ongkir makin hemat. Info selengkapnya klik di sini.

 

Dengan jaringan luas dan sistem pelacakan yang mudah diakses, Lion Parcel mendukung koneksi tanpa batas, sehingga kirim paket ke luar negeri kini jadi lebih simpel dan nyaman. Kamu bica cek resi agar melihat proses perjalanan paket, agar paket sampai dengan aman.

#jasapengiriman #kirimpaketkeluarnegeri #viral #trending
Mau kirim paket tapi males keluar rumah?
Cobain Pick-up sekarang!
logo-btn.png
Kirim sekarang

Lihat promo spesial!

logo-btn.png
Semua promo