Idealnya, sebuah keputusan yang diambil selalu berdasarkan data dan peluang kedepannya. Namun pada kenyataan, manusia tidak selalu bertindak rasional. Nah, ada suatu konsep psikologis yang sering menjadi batu sandungan dalam pengambilan keputusan, baik di level personal maupun perusahaan.
Istilah ini mungkin terdengar teknis, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita semua pernah berada di situasi di mana kita mempertahankan sesuatu hanya karena sudah terlanjur mengeluarkan uang, waktu, atau tenaga. Padahal, keputusan terbaik justru sering kali adalah berhenti.
Lalu sebenarnya apa itu sunk cost? Mengapa manusia mudah terjebak di dalamnya? Dan bagaimana cara menghindarinya dalam konteks bisnis? Mari kita bahas lebih dalam.
Apa Itu Sunk Cost?
Sunk cost adalah biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak bisa dikembalikan lagi. Biaya ini tidak seharusnya mempengaruhi keputusan masa depan, karena apapun keputusan kita, biaya tersebut sudah hilang.
Secara teori ekonomi, sunk cost memang seharusnya diabaikan walaupun kadang dalam praktiknya manusia cenderung mengaitkan masa depan dengan apa yang sudah terlanjur dikorbankan di masa lalu.
Di sinilah muncul istilah sunk cost fallacy, yaitu bias psikologis ketika seseorang tetap melanjutkan sesuatu hanya karena sudah mengeluarkan banyak investasi sebelumnya.
Misalnya:
- Tetap menonton film yang membosankan di bioskop karena “sudah bayar tiket”.
- Bertahan pada proyek bisnis yang tidak menguntungkan karena “modalnya sudah besar”.
- Melanjutkan langganan software yang jarang digunakan karena “sayang sudah dibayar tahunan”.
- Perusahaan mempertahankan mesin lama karena “harganya mahal dulu”.
Kelihatannya sederhana, tetapi efeknya bisa besar—baik bagi individu maupun bagi perusahaan.
Kenapa Orang Mudah Terjebak Sunk Cost?
Nah, masalah sunk cost bukan hanya soal uang tapi juga tentang emosi, persepsi, dan bias kognitif. Ada beberapa alasan kenapa manusia sulit melepaskan sesuatu yang sudah terlanjur:
1. Faktor Emosional
Orang sering merasa usaha mereka berubah jadi identitas. Akibatnya, berhenti dianggap sebagai kegagalan, padahal berhenti justru bisa menjadi keputusan paling rasional.
2. Takut Terlihat Salah
Dalam organisasi, mengakui keputusan sebelumnya kurang tepat dianggap memalukan. Jadi ini membuat banyak proyek buruk tetap berjalan hanya karena tidak ada yang mau menghentikannya.
3. Harapan Akan Perubahan
Kadang kita optimis berlebihan, berharap keadaan akan membaik. Namun sayangnya, harapan bukan strategi bisnis.
4. Loss Aversion
Secara psikologis, manusia lebih tidak suka kehilangan daripada senang mendapatkan. Maka, biaya yang sudah hilang terasa lebih menyakitkan sehingga orang ingin “balik modal”, meskipun itu sudah mustahil.
Contoh Sunk Cost dalam Dunia Bisnis
Agar lebih jelas, berikut beberapa situasi nyata di mana sunk cost sering terjadi:
-
Proyek yang Tidak Efisien
Bayangkan sebuah perusahaan sudah membangun teknologi internal selama dua tahun, menghabiskan miliaran rupiah. Setelah dibandingkan dengan solusi SaaS di pasar, ternyata teknologi internal itu jauh lebih mahal dan kurang efektif.
Secara rasional, perusahaan harus berhenti dan beralih ke solusi lain. Tetapi banyak yang tetap melanjutkan proyek hanya karena sudah mengeluarkan banyak resources.
-
Produk yang Tidak Laku
Brand terus melakukan promosi untuk produk yang sebenarnya tidak diminati pasar. Kenapa? Karena mereka merasa sayang dengan biaya riset, pengembangan, dan produksi yang sudah dikeluarkan.
-
Investasi Peralatan
Mesin pabrik lama yang sering rusak tetap dipertahankan karena dulu membelinya mahal, padahal biaya maintenance jauh lebih besar dibanding membeli mesin baru.
Semua ini bisa menghambat pertumbuhan bisnis—bahkan membuat perusahaan rugi besar.
Cara Menghindari Jebakan Sunk Cost
Sunk cost tidak bisa dihindari, karena setiap keputusan memang memiliki biaya. Namun jebakan psikologisnya bisa diminimalkan. Berikut beberapa pendekatan yang umum digunakan:
1. Fokus pada Future Value, Bukan Past Investment
Pertanyaan yang perlu ditanyakan: “Keputusan ini menguntungkan ke depan atau tidak?”
Bukan: “Sayang dong sudah keluar banyak biaya.”
2. Gunakan Data
Keputusan bisnis sebaiknya berbasis pada laporan keuangan, proyeksi, dan analisis risiko. Jika data menunjukkan kerugian berkelanjutan tanpa prospek membaik, berhenti adalah pilihan rasional.
3. Tetapkan Exit Criteria Sejak Awal
Misalnya:
- Jika proyek tidak mencapai target dalam 6 bulan, hentikan.
- Jika ROI tidak terlihat dalam 1 tahun, evaluasi ulang total.
Dengan kriteria yang jelas, keputusan tidak akan terpengaruh faktor emosional.
4. Libatkan Pihak Ketiga atau Konsultan
Penilaian eksternal cenderung lebih objektif karena tidak terbebani masa lalu.
5. Berani Cut Loss
Di dunia investasi, cut loss adalah hal biasa. Dalam bisnis pun sama. Berhenti pada waktu yang tepat adalah tanda kedewasaan strategi, bukan kelemahan.
Baca juga:
Kenapa Memahami Sunk Cost Penting bagi Bisnis?
1. Mencegah Kerugian Berkelanjutan
Dengan memahami sunk cost, bisnis lebih cepat menyadari kapan harus mengubah strategi.
2. Mempercepat Pertumbuhan
Keputusan yang lebih objektif memudahkan perusahaan fokus pada hal yang benar-benar menghasilkan.
3. Mengurangi Pemborosan Anggaran
Terutama dalam marketing, operasional, dan investasi teknologi.
4. Membuat Organisasi Lebih Adaptif
Perusahaan yang tidak terjebak sunk cost lebih lincah menghadapi perubahan pasar.
Siap Melangkah Lebih Ringan? Kirim bersama Lion Parcel
Jika kamu ingin bisnis berjalan lebih efisien tanpa terbebani keputusan lama, pastikan proses pengiriman juga sudah lebih cepat, praktis, dan hemat. Gunakan layanan Lion Parcel untuk kirim paket dengan jaringan luas, tracking real-time, dan pilihan layanan sesuai kebutuhanmu.