Tak lama lagi, bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim tiba. Ya, Ramadan, bulan penuh dengan berkah. Dimana bulan tersebut diwajibkan untuk berpuasa.
Puasa menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, ada kondisi tertentu seperti sakit, berpergian jauh (musafir), hamil, menyusui, dan halangan lain yang dibenarkan untuk seseorang diperbolehkan untuk tidak berpuasa.
Biasanya, menjelang ramadan banyak pertanyaan muncul, yaitu "Sampai kapan batas puasa ganti (qadha) Ramadan?”
Kapan Batas Puasa Ganti untuk Ramadan?
Ganti puasa Ramadan atau puasa qaddha adalah mengganti puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan dengan berpuasa di hari lain di luar Ramadan. Jadi, jumlah hari yang diganti harus sama dengan jumlah hari yang diganti.
Sebagai contoh: Kamu tidak berpuasa selamat 3 hari karena sakit, maka kamu wajib mengganti puasa sebanyak 3 hari di luar Ramadan.
Lalu, kapan batas mengganti puasa Ramadan?
Secara syariat, batas akhir puasa qadha Ramadan adalah sebelum masuk Ramadan berikutnya. Artinya, sejak selesai Ramadan tahun lalu hingga malam 1 Ramadan tahun ini, puasa qadha masih boleh dan sah dilakukan.
Jadi, umat muslim yang ingin membayar utang puasa di Ramadan tahun lalu, batas waktunya adalah sampai bulan Ramadan tahun ini. Artinya, seseorang masih bisa melakukan qadha puasa Ramadan tahun lalu, termasuk di bulan Syaban pada hari terakhir.
Karena itu, semakin mendekati Ramadan, semakin sempit pula waktu yang tersedia untuk mengganti puasa.
Kapan Waktu Terbaik Mengganti Puasa Qadha?
Walaupun batas akhirnya cukup panjang, Islam sangat menganjurkan untuk tidak menunda-nunda puasa qadha. Berikut urutan waktu yang paling dianjurkan:
1. Segera Setelah Ramadan Berakhir: Ini adalah waktu paling utama. Utang puasa masih sedikit, semangat ibadah masih tinggi, dan belum terganggu agenda lain.
2. Di Bulan-Bulan Setelahnya: Puasa qadha boleh dilakukan kapan saja, selama bukan di hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa (Idul Fitri, Idul Adha, dan hari tasyrik).
3. Bulan Syaban (Menjelang Ramadan): Bulan Syaban sering disebut sebagai momen terakhir untuk menyelesaikan puasa qadha. Dalam sebuah riwayat, Aisyah RA pernah mengqadha puasanya di bulan Syaban karena kesibukannya mendampingi Rasulullah SAW.
Bagaimana Jika Puasa Qadha Belum Selesai Saat Ramadan Tiba?
Jika seseorang masuk Ramadan berikutnya padahal masih memiliki utang puasa, hukumnya tergantung pada sebab keterlambatannya. Dilansir dari berbagai sumber, berikut jawabannya:
1. Jika Karena Uzur Syar’i
- Sakit berkepanjangan.
- Hamil atau menyusui terus-menerus.
- Kondisi fisik yang belum memungkinkan.
Cukup mengqadha puasa saja, tanpa fidyah.
2. Jika Tanpa Uzur yang Jelas
Mayoritas ulama berpendapat:
- Tetap wajib mengqadha puasa.
- Ditambah membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sebanyak hari puasa yang ditinggalkan.
Karena itulah, menunda qadha tanpa alasan yang sah sangat tidak dianjurkan.
Aturan Teknis Puasa Qadha yang Perlu Diketahui
Agar tidak keliru, berikut beberapa aturan penting puasa qadha Ramadan:
- Niat wajib dilakukan di malam hari, sebelum fajar.
- Puasa qadha boleh tidak berurutan.
- Boleh dilakukan di hari Senin-Kamis.
- Tidak sah jika diniatkan hanya sebagai puasa sunnah.
- Menggabungkan niat qadha dan sunnah ada perbedaan pendapat, namun yang paling aman adalah memisahkannya.
Jadi, batas puasa ganti Ramadan adalah sebelum masuk Ramadan berikutnya, dengan waktu terbaik adalah sesegera mungkin setelah Ramadan berakhir. Menyelesaikan puasa qadha lebih awal bukan hanya soal kewajiban, tapi juga bentuk kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang lebih lapang.
Jangan sampai ibadah di bulan suci terganggu karena masih memikirkan utang puasa. Selagi masih ada waktu dan kesehatan, menyegerakan qadha adalah pilihan terbaik.