Azizah Salsha Sampai Jule Kena Cancel Culture, Apa Itu Cancel Culture?

Azizah Salsha Sampai Jule Kena Cancel Culture, Apa Itu Cancel Culture?

Penulis
Rizki Astuti
Tanggal publish
13 November 2025

Cancel culture, mungkin sebagian dari kamu tidak asing dengan kalimat ini. Di mana fenomena ini sedang ramai dibahas di media sosial, termasuk di Indonesia. Dimana satu kesalahan kecil bisa berujung pada kehilangan dukungan publik secara besar-besaran.

 

Tak hanya di luar negeri, sejumlah artis dan influencer Tanah Air juga merasakan langsung dampaknya. Misalnya terjadi belum lama ini pada Azizah Salsha alias Zize, influencer sekaligus mantan istri pesepakbola Pratama Arhan, menjadi contoh terbaru dari fenomena cancel culture di Indonesia setelah muncul di ajang Jakarta Fashion Week 2026.

 

Selain itu, Julia Prastini atau yang akrab disapa Jule adalah influencer yang sempat ramai dibicarakan setelah isu perselingkuhan muncul. Banyak brand yang sebelumnya bekerja sama dengannya memutus kontrak.

 

Efek dari cancel culture sudah terasa. Kasus Jule menunjukkan bahwa dalam dunia influencer, kesalahan personal bisa langsung berdampak pada aspek profesional, terutama bagi mereka yang menggantungkan pendapatan dari citra publik.

 

Tapi sebenarnya apa itu cancel culture dan apa berpengaruh kepada pemilik bisnis?

Apa Itu Cancel Culture?

Cancel Culture?

 

Cancel culture dianggap sebagai tindakan yang memberikan dampak begitu besar bagi siapa saja yang mengalaminya. Sederhanya, praktik sosial di mana seseorang atau merek “dibatalkan” secara publik akibat ucapan atau tindakan yang dianggap salah, tidak pantas, atau menyinggung nilai-nilai tertentu.


Menurut Merriam-Webster Dictionary, cancel culture adalah cara berperilaku yang terjadi di masyarakat atau kelompok, terutama di ranah media sosial. Tindakan ini melibatkan orang-orang yang menolak atau berhenti mendukung seseorang dikarenakan sebuah alasan.

 

Fenomena ini mulai populer di media sosial sejak pertengahan 2010-an, beriringan dengan munculnya gerakan seperti #MeToo dan Black Lives Matter.

 

Di Indonesia, praktik serupa muncul di berbagai platform seperti X (Twitter), TikTok, dan Instagram, di mana publik dengan cepat “menjatuhkan vonis” pada figur publik yang dinilai melanggar norma sosial.

Mengapa Cancel Culture Muncul?

Cancel Culture?

 

Ada beberapa faktor yang memicu munculnya budaya ini:

Kekuatan Media Sosial

Publik diberi ruang di media sosial untuk memberikan opini. Hal ini terkadang memberikan reaksi cepat dari warganet untuk membuat isu kecil membesar dalam hitungan jam.

 

Boom! Ketika viral semua bisa tahu dalam waktu cepat!

Meningkatnya Kesadaran Sosial

Generasi saat ini lebih vokal terhadap isu moral, keadilan sosial, kesetaraan gender, dan kejujuran publik figur. Sehingga saat ada action yang dianggap menyimpang, respons publik cenderung lebih tegas.

Hadirnya Budaya Fans & Idol

Di era influencer, kedekatan antara figur publik dan pengikutnya membuat rasa kecewa jauh lebih personal. Ketika idola melakukan kesalahan, fans pun merasa berhak menuntut pertanggungjawaban.

Dampak Cancel Culture

Jadi sebenarnya apa sih penyebab terjadinya cancel culture? Fenomena ini disebabkan karena seseorang telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang dianggap menyinggung.


Di satu sisi, cancel culture bisa menjadi alat kontrol sosial, mendorong transparansi dan tanggung jawab dari publik figur. Namun di sisi lain, efeknya bisa sangat keras dan tidak proporsional.

 

Penyebab cancel culture juga tidak jarang dikarenakan tudingan bullying, perilaku kasar, sikap tidak sopan dan lainnya. Selengkapnya di bawah ini

 

Dampak Positif:

  • Mendorong akuntabilitas publik figur dan perusahaan.
  • Membuka ruang diskusi soal etika, moral, dan tanggung jawab sosial.

Dampak Negatif:

  • Bisa berubah menjadi online mobbing (perundungan digital).
  • Menghambat kebebasan berekspresi karena takut “salah bicara”.
  • Menimbulkan tekanan psikologis dan ekonomi bagi individu yang dicancel.
 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Grace Tahir (@gtahirs)

Sikap Kita Sebagai Brand saat Fenomena Cancel Culture

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana cara sehat untuk menyikapi kesalahan publik figur, terutama untuk pemilik brand.

 

Ketika publik tidak setuju dengan tindakan seorang influencer atau tokoh yang menjadi wajah kampanye, reaksi cepat bisa berupa ajakan boikot, kritik masif, hingga ancaman berhenti menggunakan produk.

 

Publik kini menilai brand tidak hanya dari kualitas produk, tapi juga dari nilai moral dan sikap sosial.


Ketika brand dianggap tidak peka terhadap isu publik, atau mendukung figur yang kontroversial, masyarakat bisa menganggapnya sebagai bentuk pembenaran terhadap perilaku negatif.

 

Tapi, bagaimana jika brand sudah terlanjur terseret oleh fenomena ini? Baiknya buat pernyataan resmi dan tenang untuk minta maaf serta memberikan empati dengan apa yang terjadi.

 

Jika sudah jelas influencer terkeda dampak dari cancel culture dan melakukan kesalahan serius, lebih baik putus kerja sama dan berikan pernyataan yang profesional.

#trending
Mau kirim paket tapi males keluar rumah?
Cobain Pick-up sekarang!
logo-btn.png
Kirim sekarang

Lihat promo spesial!

logo-btn.png
Semua promo